Follow by Email

Jumat, 17 Februari 2012

Pengalaman Menemani Istri Melahirkan

Takut dan cemas. Itulah yang saya rasakan ketika menemani istri melahirkan pada 11 Oktober 2010. Takut karena ini adalah pertama kalinya saya melakukannya. Disamping itu, saya juga tidak tahu apakah saya kuat melihat ceceran darah bercampur lendir yang akan keluar dari bagian vital istri saya. Cemas karena proses persalinan cukup rumit dan memakan waktu panjang. Kalau dihitung dari awal istri saya kontraksi hingga persalinan selesai, hampir 24 jam. Tapi sebagai seorang suami dan calon ayah, saya tidak mau melewatkan momen ini.

Saya melihat betul betapa beratnya upaya istri saya dalam melahirkan. Mulai dari kontraksi yang terasa setiap 10 menit sekali, sampai yang dua menit sekali. Dan itu terjadi selama hampir 24 jam. Bisa anda bayangkan berapa kali kontraksi itu terjadi.

Ketika kontraksi datang, ia remas kuat-kuat tangan saya. Selama kurang lebih satu menit ia menahan rasa mulas yang hebat. Matanya terpejam, mulutnya mengerang, dan keringat bercucuran di sekujur tubuh. Saya bingung luar biasa saat itu. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain terus menemani dan menyemangati istri saya agar teus bertahan. Saat itu, bidan pun belum bisa mengambil tidakan apa-apa, sebab waktu melahirkan belum tiba.

Tangis istri saya pun pecah ketika kontraksi sudah terasa setiap 5 menit sekali. Semakin sakit rasanya, kata dia. Istriku hampir menyerah. Tubuhnya sudah lemas menahan sakit yang semakin menjadi-jadi. Kondisi fisiknya semakin tidak memungkinkan mengingat semalaman dia belum tidur karena kontraksi terjadi mulai jam 1 dini hari. “Ya Tuhan, kuatkanlah istriku,” begitu doaku disampingnya.

Keadaan semakin tegang ketika bidan menyatakan waktu melahirkan sudah tiba. Ibu bidan langsung mengeluarkan alat-alat, yang menurutku menyeramkan. Seperti pisau, gunting, alat penjepit dan beberapa peralatan lainnya yang terbuat dari besi. Mau diapakan istriku? Tanya saya dalam hati. Erangan istri saya semakin kuat. Sakitnya kini sudah terasa terus menerus. Tidak ada lagi jeda waktu. Ia sudah bisa merasakan kepala si jabang bayi menyembul di selangkangannya.

Tapi sang bidan sangat tenang di dalam keadaan seperti itu. Ketenangannya terasa menyejukkan hati saya beserta istri. Maklum, sudah 30 tahun dia menjadi bidan. Dengan nada rendah dia berkata, “Terus.. terus.. sedikit lagi. Iya, bagus.. terus.. terus,”.

Namun istri saya terus mengerang kesakitan. Otot-ototnya terasa menegang setiap kali ia berusaha mendorong sang bayi keluar dari rahimnya. Keringatnya pun terus bercucuran. Raut mukanya lelah menahan sakit. Sampai akhirnya, keluarlah anakku. Tangis melengkingnya langsung pecah mengisi seluruh ruang persalinan. Saya langsung merasa lega bercampur haru. Seraya mengusap air mata dan keringat istri saya, saya berkata, “Kamu hebat.. anak kita sudah lahir,” Saya pun tak kuasa menahan air mata.

Satu hikmah yang bisa saya bagi dari pengalaman menemani istri melahirkan. Hormatilah perempuan, sayangi dan jangan sakiti mereka. Siapapun itu, entah itu teman anda, adik, kakak, terlebih ibu anda. Karena mereka bertaruh nyawa hanya untuk menghadirkan nyawa lainnya di dunia ini. Bagi anda yang sudah punya istri dan juga memiliki pengalaman menemani istri melahirkan, saya yakin anda akan semakin sayang dengan istri anda. Kalau tidak, kewarasan anda sebagai laki-laki patut dipertanyakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar